Agen Casino Online Terpercaya

Saturday, September 23, 2017

Reptil Langka 'Buaya Badas Hitam' Hidup di Perairan Sangatta Kaltim

Reptil Langka 'Buaya Badas Hitam' Hidup di Perairan Sangatta Kaltim

Sub News Update -BELUM lama ini, masyarakat Kalimantan Timur dihebohkan adanya adegan nyata buaya muara menerkam mentah-mentah seorang pria yang mengklaim dirinya sebagai pawang reptil buaya.

Aksi buaya mencaplok orang ini terekam dalam sebuah video berdurasi 1 menit 39 detik.
Kejadian memilukan tersebut berada di kawasan sungai Muara Jawa Ulu, Kabupaten Kutai Kartanegera, Kaltim.

Kabar terakhir, nasib pria yang dicaplok mulut buaya itu, garis takdirnya dinyatakan meninggal usia, menjadi korban keganasan liarnya buaya.

Melihat dari segi ilmu biologi reptil, buaya itu terbagi dalam beberapa kelompok, yakni kelompok buaya air tawar dan buaya air payau.

Buaya yang galak di Muara Jawa masuk kategori buaya air payau, yang sering disebut buaya muara.
Hidupnya bisa berada di kondisi perairan yang tawar dan tawar sedikit asin.
Sebenarnya bumi ini bukan hanya disinggahi buaya muara semata. Ada buaya lainnya yang jarang diketahui khalayak umum.

Secara kasat mata, bentuk buaya bisa dibilang bagai "pinang dibelah dua," satu sama lain wujudnya hampir sama.
Perlu diketahui, selain buaya muara ternyata ada juga buaya lainnya yang menempati planet bumi ini, khususnya di Pulau Kalimantan.

Buaya ini adalah buaya badas hitam atau dalam bahas latinnya Crocodylus Siamensis.
Buaya jenis ini hidup di perairan Sangatta, Kutim.  Petugas konservasi di Kota Balikpapan memberi nama dengan sebutan buaya kodok.

Buaya badas hitam menempati habitat di perairan air tawar, tidak bisa hidup di wilayah air payau, apalagi perairan laut yang bergaram tingkat asinnya tinggi.

Dibandingkan dengan populasi buaya muara, jenis buaya badas hitam bisa dibilang masuk kategori sudah mulai jarang ditemukan.

Petugas lapangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kota Balikpapan, Amos Robi Simon, yang sudah berpuluh tahun menyusuri alam liar, blusukan ke wilayah perairan sungai di Samarinda, Balikpapan, dan Penajam Paser Utara belum pernah menemukan si buaya badas hitam.

Menurut kajian The Wildlife Conservation Society Indonesia wilayah Kaltim, buaya badas hitam masih bisa ditemukan di daerah perairan sungai Sangatta, atau juga di penangkaran buaya Teritip,  Balikpapan Timur.
Pernah sekitar pada tahun 2015, Amos yang berciri tubuh kurus berkulit gelap mengalami pengalaman pertama kalinya dalam sejarah hidup, menjadi petugas pengendali ekosistem hutan.
Amos pernah dilibatkan dalam melepasliarkan buaya badas hitam.

"Saya dan teman-teman di Balikpapan sering sebut buaya badas hitam dengan nama buaya kodok. Soalnya bentuk fisiknya besar, wajahnya lebar. Mirip sekali seperti kodok," katanya.

Waktu itu, cerita Amos, ada hasil penyelamatan buaya badas hitam di Balikpapan, yang rencananya akan diperjual-belikan sebagai barang dagangan di pasar satwa liar. Upaya penyelundupan buaya badas hitam ini mampu digagalkan.

Setelah berhasil diselamatkan, buaya badas hitam diputuskan untuk dilepaskan ke tempat yang dianggap cocok. Karakteristiknya hidup menetap di perairan tawar, maka pilihan yang pas adalah lokasi Danau Mesangat, Kutai Timur. 

Buaya badas hitam yang dilepasliarkan itu jumlahnya dua ekor dengan jenis kelamin jantan.
"Bentuknya besar. Sudah buaya dewasa, panjangannya saja sampai tiga meter," tutur Amos.

Saat itu, Amos merasa bahagia, bisa melihat secara langsung fisik buaya badas hitam yang masih hidup. Amos berdecak kagum, sebab buaya ini telah diduga rentan punah, sulit ditemukan.
"Kalau lihat buaya muara saya sering. Masih mudah ditemukan," ungkapnya.

Tidak hanya itu, Badan Lingkungan Hidup Kutai Timur pun pernah menyatakan, buaya badas hitam juga bisa ditemukan di Danau Suwi, Kutai Timur.

Mencengangkan lagi, buaya badas hitam yang ada di Danau Suwi ini benar satu-satunya yang tersisa. Tempat lain seperti di negeri Thailand, Vietnam, Kamboja dan Malaysia, sudah tiada.

No comments:
Write comments